Kalau bicara soal sustainability, kita sering membayangkan sesuatu yang besar. Ada launching, campaign, target yang diumumkan, foto bersama, lalu angka pencapaian yang bisa diceritakan di akhir program.
Padahal sustainability yang benar-benar berjalan kadang bentuknya jauh lebih sederhana. Bahkan, kalau dilihat setiap hari, mungkin terasa agak membosankan.
Sampah dipilah. Dijemput. Ditimbang. Dicatat. Dikelola. Besok dilakukan lagi. Minggu depan dilakukan lagi. Bulan depan, masih dilakukan lagi.
Gak selalu ada seremoni. Gak setiap pickup perlu difoto. Dan mungkin justru itu kabar baik.
Kurang lebih seperti itulah perjalanan Duitin bersama TOKO KOPI TUKU selama hampir lima tahun terakhir.
Semua dimulai pada Januari 2022. Saat itu, Duitin melakukan penjemputan di satu toko TUKU, dengan fokus awal pada sampah daur ulang yang dihasilkan dari operasional toko. Belum ada puluhan lokasi, belum ada ribuan pickup, dan tentunya belum ada ratusan ton sampah yang dikelola.
Yang ada adalah satu titik dan satu proses yang perlu dibuat berjalan. Dari sana, pelan-pelan cakupannya berkembang. Bukan cuma jumlah toko yang bertambah, tetapi juga jenis sampah yang perlu dikelola dan ritme operasional yang harus mengikuti aktivitas masing-masing lokasi.
Per September 2026, pengelolaan sudah berjalan di 32 toko TUKU di Jabodetabek dan Tangerang Selatan. Penjemputan dilakukan enam hari dalam seminggu, dari Senin sampai Sabtu, dengan cakupan pengelolaan yang kini bukan hanya sampah daur ulang, tetapi juga sampah organik dan residu.
Kalau semuanya dijumlahkan sejak perjalanan ini dimulai, sudah ada lebih dari 11.000 kali penjemputan dan lebih dari 600 ton sampah yang dikelola.
Angkanya memang menarik. Tapi sebenarnya, bagian yang lebih menarik justru apa yang terjadi di antara angka-angka tersebut.
Karena sebelas ribu pickup berarti sebelas ribu kali ada proses yang harus berjalan.
Ada tim di toko yang perlu memilah. Ada jadwal yang perlu disesuaikan dengan operasional. Ada kendaraan yang harus datang. Ada sampah yang harus ditimbang dan dicatat. Ada jalur pengelolaan yang berbeda untuk sampah daur ulang, organik, dan residu. Kalau ada perubahan di satu titik, sistem di belakangnya juga perlu menyesuaikan.
Lalu besok, semuanya dilakukan lagi.
Di sinilah mungkin keberlanjutan mulai terlihat berbeda dari sebuah campaign.
Campaign punya awal dan akhir yang jelas. Operasional gak begitu. Kalau satu toko bertambah menjadi lima, lalu sepuluh, lalu tiga puluh dua, persoalannya bukan lagi sekadar apakah kita bisa melakukan penjemputan. Pertanyaannya berubah menjadi: apakah sistemnya bisa terus bekerja ketika skalanya bertambah?
Dan sistem yang terus bekerja hampir selalu dibangun dari hal-hal yang kelihatannya biasa.
Pemilahan harus tetap dilakukan meskipun tokonya sedang ramai. Jadwal pickup harus tetap berjalan ketika volume berubah. Pencatatan harus tetap dilakukan ketika jumlah titik bertambah. Jalur pengelolaan juga harus jelas karena setiap jenis sampah membutuhkan penanganan yang berbeda.
Gak semuanya Instagrammable. Tapi justru bagian-bagian seperti inilah yang menentukan apakah sebuah komitmen keberlanjutan benar-benar hidup setelah launching-nya selesai.
Perjalanan bersama TUKU juga menunjukkan sesuatu yang sering terlupakan ketika kita bicara soal pengelolaan sampah: perubahan gak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar.
Dulu, semuanya dimulai dari satu toko.
Bukan berarti satu toko dianggap cukup. Justru satu toko itu menjadi tempat untuk mulai memahami prosesnya, menjalankannya, melihat apa yang perlu diperbaiki, lalu membawa sistem yang sudah terbentuk ke titik berikutnya.
Ketika dilakukan secara konsisten, satu titik bisa berkembang menjadi sebuah kebiasaan operasional yang akhirnya melibatkan puluhan lokasi.
Dan menurut kami, mungkin di situlah salah satu bentuk sustainability yang paling menarik.
Bukan ketika sebuah kegiatan terus terasa seperti “program keberlanjutan”, tetapi ketika suatu hari orang-orang yang menjalankannya bahkan gak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang spesial.
Memilah sudah menjadi bagian dari pekerjaan. Penjemputan sudah masuk ke ritme operasional. Pencatatan sudah menjadi bagian dari proses. Sampah yang berbeda sudah punya jalurnya masing-masing.
Sustainability-nya masih ada. Hanya saja, ia sudah berubah menjadi kebiasaan.
Tentu perjalanan seperti ini gak berarti semuanya selalu sempurna. Operasional akan berubah, volume bisa naik turun, toko baru akan punya kondisi yang berbeda, dan sistem.
tetap perlu terus disesuaikan. Justru karena berlangsung dalam waktu yang panjang, selalu ada hal baru yang perlu dipelajari dan diperbaiki.
Keberlanjutan memang seharusnya bukan sesuatu yang sekali dikerjakan lalu selesai. Ia perlu cukup fleksibel untuk berkembang, cukup sederhana untuk dijalankan setiap hari, dan cukup kuat untuk tetap berjalan bahkan ketika gak ada yang sedang memperhatikannya.
Jadi kalau sustainability yang berhasil kadang terlihat sedikit membosankan, mungkin gak apa-apa.
Karena setelah hampir lima tahun, 32 toko, lebih dari 11.000 kali penjemputan, dan lebih dari 600 ton sampah yang dikelola, bagian yang paling berarti dari perjalanan Duitin dan TUKU mungkin bukan hanya seberapa besar angkanya.
Tapi bahwa besok, prosesnya akan berjalan lagi... 😊